Energi Nuklir di Papua

Energi Nuklir di Papua, Salah seorang anggota DPR Papua pernah mengangkat masalah urainum di lokasi tambang PT Freeport. Sayangnya upaya membuktikan ada urainum di bawah tambang Grasberg tak berlanjut. Bahkan perusahaan tambang asal Amerika Serikat juga membantah kalau tidak ada urainum di lokasinya.

 

Henock Ondy geolog alumni Universitas Sriwijaya Palembang pernah mengungkapkan kalau mineral-mineral ikutan dalam tambang selalu mengandung unsur-unsur ikutan lain termasuk uranium. Hanya saja lanjut dia harus ada upaya penelitian lebih lanjut untuk menentukan besaran dan jumlah yang terkandung di dalamnya.

 

“Saya kira potensi selalu saja ada,”kata Ondi kepada tabloidjubi beberapa waktu lalu di Jayapura.

Hal senada juga dikatakan dosen teknik mineral Universitas Negeri Cenderawasih(Uncen) Endang Hartiningsih kalau secara geologi tanah Papua memiliki sumber daya uranium karena wilayah ini tersusun oleh batuan beku ultrabasa.

 

Bahan-bahan radio aktif seperti uranium terkandung di dalam batuan beku ultrabasa ini dan banyak dijumpai di wilayah Papua. Pulau Papua ini diperkirakan memiliki cadangan uranium yang besar karena karakteristik batuan di sana berumur 600 juta tahun dan memiliki kemiripan dengan batuan yang terdapat di Australia Utara. Batuan ini telah diketahui sebelumnya karena memang memiliki cadangan uranium.

 

Potensi uranium di Papua membuat Ketua Badan Tenaga Nuklir Nasional(Batan) Prof Dr Djarot Sulistio Wisnubroto harus melakukan survey ke Biak Numfor. Tim Batan melakukan survey pada awal Mei lalu di Biak. Tim Batan datang berbagai lokasi untuk mengambil sampel-sampel uranium untuk dijui lebih lanjut.

 

Di Papua menurut Ketua Batan untuk uranium potensinya terdiri dari beberapa kategori antara lain kategori terukur, terkea, terindentifikasi dan kategori hipotesis. Selanjutnya menurut Ketua Batan akan dilakukan penelitian yang lebih mendalam.

 

Selain di Kabupaten Biak Numfor, tim Batan juga melakukan survey di Kabupaten Mimika dan Kabupaten Yahukimo belum lama berselang. Menurut Ketua Batan potensi uranium di Indonesia diperkirakan mencapai 70.000 ton dan 117 ton thorium.

 

Pemerintah Indonesia sendiri sejak 1975 telah merencanakan untuk memilih lokasi-lokasi yang dianggap cocok untuk pembangkit Listrik Tenaga Nuklir(PLTN). Perencanaan PLTN ini penting bagi pemerintah karena keterbatasan pemasokan listrik khususnya di Pulau Jawa. Rencana semula pada 1985 sudah harus ada PLTN dengan kapasitas minimal 200 MW ternyata sampai sekarang belum terealisasi.

 

Pemilihan lokasi PLTN di lokasi pantai Utara Gunung Muria, Jawa Tengah wilayah ini sangat strategis dan aman dari bencana gempa dan memiliki sumber air cukup. Pasalnya sebuah PLTN dengan kapasitas 500 MW membutuhkan air sekitar 50 liter samoai dengan 80 loiter per detik sebagai air pendingin sekitar 25 sampai 40 m3 per detik.

 

November 2007, Green Peace Indonesia bersama Kapal Raibouw II melakukan kampanye anti nuklir dan berlabuh di Muria. Pihak GP Indonesia memprotes rencana pembangunan PLTN di Bukit Muria, 2007. Meski pun sudah mendapat protes, rencana pembangunan PLTN tetap berjalan sesuai dengan program.

 

Apalagi kondisi energi listrik dari pembangkit Listrik Tenaga Air dan Uap terus menurun drastis. Membuat PLTN tetap berjalan sesuai program telah dicanangkan pemerintah Republik Indonesia. Krisis energi lsitrik di Pulau Jawa dan sekitarnya membuat pilihan energi nuklir menjadi solusi bagi keberlangsungan jaringan industri listrik di Pulau Jawa.