Pemain Bulu Tangkis Sulawesi Tenggara

Pemain Bulu Tangkis Sulawesi Tenggara, Siapa yang tak bangga jika anaknya bisa mengharumkan nama Indonesia dengan segudang prestasinya. Seperti yang dialami Ameruddin, kedua orang tua Apriani Rahayu, juara bulutangkis tingkat Nasional asal Kabupaten Konawe ini.

 

Ameruddin merasa bangga melihat penampilan anaknya Apriani Rahayu pebulu tangkis nasional asal Kabupaten Konawe bisa tampil di turnamen All England Open 2/ 2017 mewakili Indonesia.

 

“Ia baru saja masuk dalam daftar atlet pebulu tangkis di PBSI 2017 ini. Dan langsung mendapat kepercayaan mendampingi seniornya Anggia Shitta Awanda pada 7 hingga 12 Maret lalu di Barclaycard, Birmingham, Englan,” tuturnya pada Radarsultra.co.id,Jumat (17/3/2017)

 

Pria pensiunan PNS di Konawe ini mengaku, sebelum Apriani ke Jakarta ia yang selalu mendampingi anak semata wayangnya itu setiap kali berranding. Namun sekarang ini hanya bisa menyaksikan melalui siaran televisi.

 

“Kalau mau bertanding anak saya itu selalu menelpon minta didoakan. Saya kalau sudah dapat informasi itu. Malamnya saya baca yasin dan shalat tahajud,” tuturnya.

 

Ia mengaku, Apriani masih terlalu muda. Usianya sekarang ini baru 19 tahun. Sehingga saat hendak ke Jakarta bergabung di PB DKI Jakarta 2011, alrmarhuma ibunya Sitti Jauhar enggan melepaskan.

 

Namun karena tekad Apriani yang kuat sehingga ia rela melepasnya. Merelakan hijrah ke ibu kota untuk mengejar impiannya menjadi atlet pebulu tangkis profesional.

 

“Alhamdulilah atas doa keluarga juga. impiannya sudah dicapai,” jelasnya.

 

Pria paru baya ini bercerita soal kisah karir Apriani. Ia Lahir 28 April 1998. Sosoknya tomboy. Bakatnya menjadi atlet pebulu tangkis mulai nampak sejak masih duduk dibangku SD.

 

Saat itu kerap diutus menjadi perwakilan Kabupaten Konawe. Bahkan Provinsi Sultra. “Terakhir kali pada 2007 mengikuti Porda di Kebupaten Muna. Prestasinya juga memuaskan,” tuturnya.

 

Kemudian masuk sekolah atlet bulu tangkis. Dibawah PB DKI Jakarta. Pengalaman tandingnya di berbagai open bulu tangkis di Jakarta dan di luar negeri mengantarnya masuk dalam daftar pemain pubulu tangkis di PBSI.

 

“Ibunya meninggal saat ia sedang bertanding di Peru Amerika Serikat pada 2015. Jadi keluarga tidak mau mengganggu. Kami terus mensuport untuk melanjutkan pertandingannya,” paparnya. (B)