Rumah Makan di Jambi

Rumah Makan di Jambi, Mencicipi makanan khas Kota Jambi berbahan baku ikan sungai terasa istimewa. Soalnya, semakin langka.

 

Rasanya tak lengkap jika Anda berkunjung ke Kota Jambi, Provinsi  Jambi, tidak mampir ke Rumah Makan (RM) Bang Raden. Pasalnya, di rumah makan yang berlokasi di Jl. M. Yamin No. 20 ini pengunjung bisa menikmati kuliner khas daerah Jambi yang berjuluk “Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” tersebut, yakni aneka pindang ikan sungai. Yang paling terkenal adalah pindang ikan toman. Tapi, ada juga aneka pepes ikan sungai dan ikan seluang goreng garing.

 

Menu di sini didominasi hidangan berbahan baku ikan sungai yang memang merupakan lauk-pauk utama warga setempat. Maklum, daerah ini dialiri sungai-sungai besar yang mempunyai potensi ikan luar biasa. Karena itu, dari nenek moyangnya orang Jambi menyenangi hidangan berbahan baku ikan sungai.

 

Tak mengherankan bila Fatmawati, pemilik RM Bang Raden, tetap mempertahankan bahan baku masakannya dari ikan sungai, meski harganya lebih mahal. Ini dilakukan guna mempertahankan citarasa ikan sungai yang lebih gurih dan sedikit lemaknya. Dengan kiat itu, rumah makan ini disenangi pelanggan. Banyak pengunjung luar kota menyempatkan bersantap di sini karena citarasa ikan yang khas.

 

Bahan Baku Segar

Untuk mendapatkan ikan yang segar, Fatmawati sudah memiliki pemasok setiap pagi. Namun, karena ketersediaan ikan sungai di Pasar Angsoduo, Kota Jambi, tidak stabil akibat pengaruh cuaca, stok ikan sering tidak lengkap.

 

“Biasanya ikan sungai agak susah di musim kemarau dan kembali banyak pada musim hujan. Apalagi, belakangan ini banyak sungai di Provinsi Jambi yang tercemar limbah pabrik dan rumah tangga. Juga derasnya penggundulan hutan untuk perkebunan sehingga ketersediaan ikan sungai makin langka,” lanjutnya. Ikan seluang, misalnya, belakangan tak selalu tersedia di pasar.

 

Bumbu untuk pindangnya hampir sama saja dengan bumbu pindang di Palembang dan Lampung, antara lain bawang merah, cabai merah, asam jawa, jahe, kunyit, lengkuas, sereh, nanas, terasi, garam, dan daun kemangi. Yang membedakannya hanya takarannya. “Untuk pindang, saya sendiri yang menentukan takaran bumbunya,” ungkap Fatmawati.

 

Dalam meramu bumbu pindang, ia juga tidak menggilingnya seperti banyak dilakukan orang, tapi hanya memotongnya tipis. Dengan cara ini, kuah pindang tetap bening tapi citarasanya gurih.

 

Untuk mempertahankan citarasa bumbu termasuk sambalnya, Fatmawati juga mengambil bahan baku yang segar, seperti cabai, tomat, embacang, nanas, dan terasi. Khusus untuk durian sebagai bahan baku sambal dan pepes yang sulit didapat bila tidak musim panen, pernah ia mencoba menggunakan durian montong asal Thailand. “Tapi kurang disukai konsumen karena aroma dan citarasanya tak seenak durian lokal,” jelasnya.

 

Aset Wisata Kuliner

Menurut Fatmawati, berbeda dengan di Palembang, tak banyak rumah makan  menyajikan makanan khas Jambi. “Di Palembang, kita bisa temui rumah makan pindang meranjat, pindang pegagan, dan pindang palembang di tiap sudut kota. Tapi, di Jambi bisa dihitung dengan jari,” ungkapnya.

 

Penyebabnya, selain masyarakat Jambi seleranya lebih terbuka, juga karena banyaknya pendatang, sehingga berkembanglah rumah makan masakan padang, cina, serta jawa dan sunda. Karena itu, ia cemas jika ke depan para pengusaha rumah makan hanya memikirkan keuntungan, lama-kelamaan rumah makan khas Jambi punah. Ia berharap baik pemerintah daerah memperhatikan rumah makan khas jambi sebagai aset wisata kuliner.

 

Fatmawati memendam cita-cita rumah makannya itu juga dilengkapi dengan gerai aneka makanan ringan khas Kota Jambi. Namun, makanan ringan khas Jambi tak banyak. Kalaupun ada mutu dan citarasanya sulit bersaing dengan produksi daerah lain. Dicontohkannya, kerupuk kemplang ikan jauh lebih enak yang diproduksi di Palembang. Begitu juga kerupuk udang, lebih enak yang dibawa dari Bangka.

 

Di kotanya, paling hanya ada lempok durian, bubuk kopi, dan kue-kue kering yang di daerah lain juga mudah ditemui. Ia sendiri sangat kagum dengan perkembangan makanan ringan berupa kripik pisang di Lampung. “Andai usaha rumahan oleh-oleh khas Kota Jambi dibina dan bisa berkembang seperti di daerah lain,” ujar Fatmawati penuh harap.